"Tua Pasti, Dewasa Belum Tentu" Putri Haryani - Mahasiswa Universitas Siber Asia

artikel kecerdasan emosional
Tua Pasti, dewasa belum tentu

"Tua Pasti, Dewasa Belum Tentu", rasanya sebuah kalimat yang tepat untuk menggambarkan sebuah kecerdasaran emosional seseorang. Ketika Saya kecil dulu, saya selalu berpikir bahwa semua orang dewasa itu baik, semua orang dewasa itu jujur, semua orang dewasa itu tidak ada yang nakal, semua orang dewasa itu benar, hal itu karena saat saya kecil, ketika saya berbuat sesuatu yang salah rasanya akan ada orang tua entah itu orang tua saya sendiri atau orang yang memang umurnya lebih tua daripada saya saat itu akan memberikan nasehat kepada saya atas kesalahan yang saya buat itu.

Namun setelah saya menjadi orang dewasa (saat ini usia saya 33 tahun), saya merasa apa yang saya pikirkan saat saya kecil dulu bahwa orang dewasa itu selalu benar, selalu baik, selalu berada di jalan yang lurus dan yang paling penting "dewasa secara berpikir" adalah tidak sepenuhnya benar adanya.

Saya sendiri mengalaminya, antara saya yang 20 tahun yang lalu dengan saya yang sekarang rasanya hanyalah fisik saja yang banyak berubah, namun terkait cara berpikir rasanya masih terus berubah-ubah, bisa seperti saya yang dua puluh tahun yang lalu, bahkan 30 tahun yang lalu, atau bahkan cara berpikir saya bisa berubah seperti orang yang rasanya umur nya lebih tua dari saya.

Cara manusia berpikir itu banyak ditentukan oleh banyak hal, seperti keluarga, tempat dia berasal, budaya yang dibangun dari kebiasaan, lingkungan sekitar tempat dia tinggal, teman-teman, trauma masa lalu, dan banyak lagi lainnya. Itulah Mengapa jika kita melihat di media sosial mudah sekali orang berdebat hal yang sebenarnya tidak penting, karena memang pada dasarnya cara berpikir manusia satu dengan lainnya memang pasti berbeda-beda, sementara dengan media sosial orang bisa bebas saja mengetik sesuatu tanpa rasa takut orang tahu dia siapa dan dimana.

Cara berpikir ini banyak dibutuhkan ketika mengambil keputusan atas masalah-masalah yang dihadapi, makanya banyak istilah yang menyebut, Si A orang nya bijak, Si B orangnya ga asik, Si C orang nya ribet, Si D punya jiwa pemimpin, dan masih banyak lagi istilah-istilah lainnya, cap ini sebenarnya muncul dari orang disekitar kita yang memberikan label atas cara atau Bagaimana kita berpikir.

Lalu cap apa yang orang sematkan untuk dirimu? Rasanya kau tak akan tahu dari orang lain, kau sendirilah yang mungkin bisa merenung atas perbuatan yang kau lakukan dan mengambil benang merah seperti apa kau dimata orang lain.

Memang sangat sulit rasanya untuk menilai diri sendiri. Lain cerita jika kau disuruh menilai orang lain, sangat mudah sekali. Apalagi membicarakan keburukannya, tentu sangat mudah sekali, terkadang orangnya belum datang, dinding tempat mu bekerja sudah bisa berbicara tentang Bagaimana orang tersebut dimata kebanyakan orang, walau terkadang apa yang dikatakan itu belum tentu benar adanya.

Jika melihat fenomena tersebut maka cocok rasanya jika sebutan "Tua Pasti, Dewasa belum tentu" disematkan pada kebanyakan orang, sebab hal-hal seperti membicarakan keburukan teman, bersekongkol untuk membangun opini kepada orang yang tidak kita sukai, membangun kelompok-kelompok kecil, terlalu cepat mengambil keputusan, banyak berbicara sedikit berpikir, atau hal-hal lain yang mungkin banyak kita lakukan dulu saat cara otak kita berpikir belum sempurna (sebut saja anak kecil) disaat usia kita sudah dewasa atau tua adalah akibat kecerdasan emosional yang belum matang.

Dulu aku mengira kecerdasan emosional itu dianggap bagus hanya untuk orang yang selalu berbicara lemah lembut, tidak marah-marah. Ternyata menurut saya hal itu tidak sepenuhnya benar, orang yang suka marah-marah itu adalah watak, namun ketepatan atau kepintaran dia menimbang-nimbang atas keputusan yang Ia buat mana lebih banyak baiknya daripada buruknya lah maka orang tersebut pantas disebut memiliki kecerdasan emosional yang baik.

Satu lagi yang paling penting, kewarasan seseorang dalam mengambil keputusan juga dipengaruhi oleh tujuan Ia hidup, jika orang tersebut cinta dunia tentu saja keputusannya tidak akan lebih baik daripada orang yang cinta dunia dan akhirat. Pahami maksud saya ini dengan melihat surat ke-13 ayat 28 dalam Alquran. Disitu ada kuncinya jika kau mau punya kecerdasan emosional yang matang.

Tugas Mata Kuliah Estetika Humanisme a.n. Putri Haryani - Mahasiswa Universita Siber Asia. 




Posting Komentar untuk ""Tua Pasti, Dewasa Belum Tentu" Putri Haryani - Mahasiswa Universitas Siber Asia"