Sawit sebagai mata pencaharian

Sawit
Tanaman kelapa sawit yang memiliki nama ilmiah Elaeis guineensis ini memang sudah menjadi primadona bagi masyarakat kecamatan benakat muara enim, sumatera selatan sejak awal tahun 2000-an.

Reli merupakan salah satunya. Pada tulisan kali ini saya akan mencoba menceritakan Reli, Yanto, dan Erlangga. Ketiganya sama-sama menggantungkan hidup dari kelapa sawit, namun dengan cerita berbeda dan merupakan kisah nyata.

Reli

Reli adalah seorang pekerja di perusahaan kelapa sawit. Tugas utama Reli adalah memanen kelapa sawit.

Pada pukul 04.00 pagi, Reli sudah harus berangkat menuju kebun sawit, setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam perjalanan sepeda motor, tibalah reli di kebun.

Ditengah dinginnya pagi dan ditemani ular kobra serta burung hantu yang sengaja dilepas perusahaan untuk mengendalikan tikus, pekerjaan pun dimulai.

Tinggi pohon kelapa sawit di kebun ini bervariasi, mulai dari 2 hingga 10 meter.

Alat yang reli gunakan cukup sederhana, hanya alat seperti celurit yang memang khusus dibuat untuk memanen kelapa sawit dan tongkat seperti gagang pancing yang bisa diatur ketinggiannya menyesuaikan tinggi pohon sawit. Celurit tersebut diikatkan pada ujung tongkat dan cara menjatuhkan tandan buah segar sawit adalah dengan menarik ujung tandan nya hingga jatuh ke tanah.

Dalam sehari Reli harus bekerja hingga pukul 12.00 siang. Siklus ini selalu berlanjut hingga tiba waktu menerima gaji setiap dua minggu sekali dari perusahaan. Raut wajah senang reli dan rekan selalu terlihat saat gajian tiba dan hal ini ditandai dengan ramai nya pasar/kalangan saat waktu gajian tiba.
Sawit

Yanto

Berbeda dengan reli, Yanto baru saja merintis menjadi petani sawit. Berbekal memiliki lahan 5 hektare yang dibelinya 3 tahun lalu, yanto belajar menjadi petani sawit.

Bukan hal yang mudah membuka lahan 5 hektare menjadi sebuah kebun kelapa sawit seorang diri, dibutuhkan ketekunan dan kerja keras. 

Untuk membuat kebun sawit, yanto membibitkan terlebih dahulu biji sawit, namun ada juga yang dengan cara lebih ekstrem, yaitu memindahkan batang sawit yang sudah berusia sekitar satu tahun. Yanto hanya perlu menggali tanah disekitar batang sawit, membongkarnya, lalu memindahkan sawit tersebut ke kebon miliknya.

Sawit termasuk tanaman yang mudah tumbuh, jatuhan biji sawit ke tanah biasanya akan menimbulkan batang sawit baru di tanah tersebut. Dan perlu digarisbawahi, sawit yang berhasil tumbuh meskipun hanya karena jatuhan biji sawit adalah sawit yang bisa dipastikan unggul.

Jarak antar tanam sawit adalah 9 meter, sehingga dalam 5 hektare lahan mampu ditanam sekitar 650 batang sawit.

Dalam satu tahun sawit kecil ini harus dipupuk beberapa kali, namun karena dirinya keterbatasan dana, dia hanya mampu memberikan pupuk setiap 6 bulan sekali, butuh dana sekitar 2 hingga 3 juta rupiah untuk sekali pemupukan.

Hama yang paling sering mengganggu sawit adalah babi, yanto sudah memagari batang sawit nya yang masih kecil, namun tetap saja terkadang babi tetap berhasil membongkar batang sawit tersebut.

Saat tulisan ini dibuat, tanaman kelapa sawit milik yanto sudah mulai belajar berbuah, atau biasa disebut buah pasir, yanto harus mencabuti buah pasir tersebut dan menunggu sekitar 6 hingga setahun kedepan hingga sawit milik yanto berhasil berbuah tandan buah segar yang baik.

Erlangga

Erlangga adalah petani sawit kebun pribadi yang sudah behasil, dalam satu bulan ada beberapa truk tandan buah segar yang berhasil erlangga kumpulkan.

Berdasarkan hitungan kasar, satu hektare kebun kelapa sawit yang dirawat dengan baik maka akan menghasilkan 2 ton tandan buah segar. Kita misalkam harga per kilo sawit adalah Rp 1.100,- maka jika dikalikan 2 ton akan diperoleh hasil Rp 2.200.000,- untuk setiap hektare kebun sawit. Sawit dipanen setiap sebulan sekali, jadi bisa dibayangkan jika Yanto diatas memiliki kebun 5 hektare, Yanto akan memperoleh Rp 11.000.000,- setiap bulannya.

Itulah sedikit kisah nyata dari orang-orang desa yang menggantungkan hidup mereka dari sawit, dengan sawit mereka hidup, meskipun dengan tiga cerita berbeda, namun ketiga nya berharap kemajuan di bidang sawit, mereka berharap sawit kuat, untuk menuju Indonesia hebat.

0 Response to "Sawit sebagai mata pencaharian"

Post a Comment

Pengalaman menginap di hotel bil baturaja

Hotel bil baturaja Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya menginap di hotel bil baturaja. Mungkin ada yang bingung Apa itu Hotel ...