Beranda · Fotografi · Wisata · Hotel ·

memotret menggunakan flash

Memotret menggunakan flash
Memotret menggunakan flash eksternal. Sumber: pribadi
kali ini saya akan berbagi mengenai cara memotret menggunakan flash, flash yang dimaksud disini adalah flash eksternal, jadi saya bukan membahas flash bawaan kamera.

ketika memotret menggunakan flash eksternal, biasanya foto yang dihasilkan akan lebih baik, dengan catatan Anda sudah mengerti cara menggunakan flash tersebut.

Dalam menggunakan flash eksternal, ada dua cara  yang bisa digunakan, pertama flash on camera, artinya flash eksternal diletakkan diatas kamera alias dipasang di hot shoe kamera. kedua, flash off camera atau lebih dikenal dengan istilah strobist, artinya flash eksternal tidak terpasang diatas kamera, melainkan dipasang ditempat lain menggunakan trigger.

trigger adalah alat yang digunakan untuk menghubungkan antara flash dengan kamera meskipun flash tidak berada di hot shoe kamera. trigger terdiri atas transmitter dan receiver. transmitter sendiri biasanya berada diatas kamera, sementara yang diletakkan di flash, dinamakan receiver.

a. flash on camera

untuk memotret menggunakan flash on camera tidaklah sulit, Anda hanya perlu memasangkan flash Anda pada hot shoe kamera Anda.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika Anda memotret menggunakan flash eksternal on camera. pertama adalah shutter speed. shutter speed yang sinkron saat menggunakan flash eksternal adalah hanya antara 1/60-1/200 detik.

untuk ISO, ISO sendiri disaat menggunakan flash eksternal biasanya tidak usah terlalu tinggi, karena tujuan kita memotret menggunakan flash eksternal kan memang agar gambarnya terlihat mulus, jika menggunakan ISO tinggi, tidak usah saja menggunakan flash, hantam saja ISO 3200-5000 didalam ruangan standar ya (artinya berlampu), mudah-mudahan lumayan lah hasilnya.

ada trik menggunakan flash baik itu flash on camera maupun off camera, yaitu, tes dulu settingan kamera sebelum menggunakan flash, tujuannnya adalah untuk melihat hasil pada background, karena biasanya flash eksternal hanya membantu saat kita memotret 3-5 meter saja untuk flash on camera, sehingga biasanya background akan terlihat gelap.

oleh karena itu kita bisa setting dahulu segitiga eksposure (ntah itu ISO yang agak sedikit ditambah, ntah itu bukaan yang agak dibesarin, atau speed yang agak diperlambat (catatan jika kamera, trigger, dan flash tidak support HSS jangan terlalu memainkan speed, karena speed yang sinkron flash hanya sekitar 1/60-1/200)) untuk melihat hasil foto tanpa flash Apakah backgound nya sudah cukup ok (artinya tidak terlalu gelap), setelah dirasa OK, baru kita tes menggunakan flash tanpa merubah lagi settingan exposure, tinggal kita sesuaikan power flash saja.

power flash sendiri biasanya berkisar antara 1/1 (kekuatan tertinggi flash) hingga 1/128 (kekuatan terendah flash).

nah, untuk bukaan alias apperture sendiri, menurut saya ini yang sangat menentukan pencahayaan flash pada foto saat menggunakan flash eksternal, sepengalaman saya, saat bukaan nya kecil (katakan f/9) makanya hasil fotonya tidak akan seterang ketika menggunakan bukaan besar (katakan f/2.8), kalo tidak percaya tes saja sendiri.

setelah mengatur ISO, Speed, bukaan, power flash, satu yang harus Anda garisbawahi saat menggunakan flash on camera, yaitu usahakan untuk bouncing alias mengarahkan flash eksternal ke langit-langit  ruangan, hasilnya akan jauh lebih baik daripada Anda mengarahkan langsung flash ke objek yang akan difoto.

langit-langit warna putih akan sangat membantu, karena cahaya flash nya netral, oh iya settingan standar white balance ketika menggunakan flash eksternal adalah berkisar 5000-5500 kelvin. lantas Bagaimana jika langit-langit berwarna kuning yang mana jika dihantam flash fotonya jadi kekuning-kuningan? caranya adalah turunkan white balance, begitu sebaliknya jika foto kebiru-biruan, maka naikkan white balance.

artinya, jika Anda set shutter speed diatas atau dibawah tersebut, maka akan terjadi ketidaksinkronan antara flash dan kamera. Jika Anda set lebih lambat, biasanya gambar akan over exposure atau hanya sebagian gambar yang terkena flash. Sementara itu jika Anda set lebih cepat, maka biasanya hanya sebagian gambar yang terkena flash atau bisa jadi meskipun flash Anda menyala maka hasilnya akan seperti tanpa menggunakan flash.

untuk flash nya sendiri, flash itu ada bermacam-macam, ada yang support TTL (Through The Lens), ada yang full manual, ada yang support HSS, ada yang tidak.

terus terang selama ini saya menggunakan flash eksternal Nikon SB-700 dan SB-910, keduanya support TTL. TTL adalah flash yang bisa mensinkronkan dirinya sendiri dengan lensa yang kita gunakan disamping tentunya bisa juga diatur manual. keuntungan flash yang support TTL adalah kita tidak perlu lagi repot-repot mengatur power flash, karena flash sudah mensinkronkan dirinya sendiri dengan lensa kita. lain halnya dengan flash manual (biasanya harganya murah ngga sampe sejuta-an), yang kita harus repot mengatur power dan segala sesuatunya.

inti dari cara menggunakan flash on camera:
-ISO tidak usah terlalu tinggi
-shutter speed kamera saat menggunakan flash eksternal untuk kamera dan flash yang tidak support HSS hanya berkisar 1/60-1/200
-bukaan atau apperture sangat menentukan over maupun under exposure disamping kekuatan flash
-flash hanya ok jika digunakan untuk jarak 3-5 meter dari objek dan untuk ruangan yang tidak terlalu besar dengan langit-langit juga akan mempengaruhi hasil foto menggunakan flash. 
-kekuatan flash terkuat adalah 1/1 terlemah 1/128
-jangan mengarahkan langsung flash ke objek, tapi arahkan flash ke langit-langit
-teruslah mencoba, sebab memotret menggunakan flash ini adalah trial and error, tidak seperti memotret biasa yang patokan kita bisa melihat exposure meter untuk mengira-ngira hasilnya akan under atau over exposure.  

b. flash off camera/strobist

Menurut saya pribadi, flash off camera jauh lebih tidak mudah dibanding flash on camera. flash off camera ini lebih dikenal dengan sebutan strobist. perlu satu alat yang dinamakan triger untuk memotret menggunakan flash off camera.

Seperti yang sudah disebutkan diatas, triger sendiri terdiri atas transmitter dan receiver. Triger ini bermacam-macam, ada yang murah yang tidak support TTL maupun HSS, ada yang support, seperti biasa Ada rupa Ada harga, hhe..

Jujur saja, saya orang baru di dunia strobist, tapi saya pernah mempelajari teknik tersebut, soalnya strobist ini biasa nya perlu beberapa flash, dan peralatan-peralatan lainnya seperti light stand, softbox dll, berhubung saya hobi bukan profesional, jadi saya rasa alat-alat ini tidak saya butuhkan, namun jangan khawatir, mudah-mudahan untuk teori saya tahu, sebab tidak ada yang susah dalam hidup ini jika kita mau belajar.

secara teori pengaturan kamera antara flash on camera dan flash off camera sama saja, perbedaan nya terletak di lampu. Berdasarkan ilmu dari pak antol ismaen a.k.a Anton Ismael yang merupakan fotografer edan baik hati yang suka bagi-bagi ilmu, pengaturan lampu flash secara garis besar terdiri atas 3 bagian, yaitu main light, fill in dan back/hairlight.

mainlight adalah cahaya utama, biasanya disamping (bisa kanan atau kiri depan model) dan biasa posisi flash tidak rata posisi model biasanya agak cenderung lebih tinggi. kekuatan/powernya paling besar dibandingkan fill in maupun backlight.

fill in adalah lampu yang berfungsi mengangkat bayangan dari arah yang berlawanan main light. kita misalkan mainlight berada di kanan depan atas, berarti fill in di kiri depan atas dengan power setengah hingga 3/4 dari mainlight.

backlight adalah lampu yang berada dibelakang model, bisa digunakan untuk menerangi background atau juga agar terlihat 3 dimensi dari gestur model, untuk kekuatan mungkin lebih rendah dari mainlight dan fill in.

itu untuk flash off camera indoor, lain hal nya dengan flash off camere outdoor yang biasanya menggunakan HSS walaupun bisa saja tidak HSS, tapi hasilnya tidak semantap HSS outdoor.

Namun, perlu digarisbawahi, ada kamera dan flash yang support HSS (High Speed Sync) ada yang tidak, untuk kamera sendiri, biasanya yang support dengan HSS adalah kamera yang sudah profesional, terus terang saya tidak tahu semua kamera yang sudah support HSS, hanya saja yang saya tahu kamera yang sudah support HSS antara lain:

-untuk nikon, Nikon D7200 keatas maupun Nikon-Nikon full frame lainnya, saya biasa menggunakan Nikon D90, D7100 dan ternyata sekelas itu pun tidak support HSS melainkan hanya support Auto FP.

-untuk canon, Canon 5Dmark sekian-sekian, yang lainnya saya tidak tahu.

-Untuk Sony, nah beberapa serie Sony ini sendiri sangat sering digunakan untuk memotret HSS, seperti Sony A7markii, Sony A7markiii, dan ada satu yang membuat saya takjub adalah Sony A6000 yang notabene merupakan kamera entry level, ternyata support HSS.

mungkin Anda bingung Apa itu HSS? HSS digunakan untuk memotret menggunakan flash diluar ruangan alias outdoor, namun foto yang dihasilkan bisa bokeh, begitu simpelnya.

biasanya hanya satu flash menggunakan softbox dan diffuser yang posisinya dekat dan diatas model yang digunakan untuk HSS. silahkan cari sendiri di tempat lain untuk melihat detail HSS.

saya akhiri dulu sharing memotret menggunakan flash nya, semoga bermanfaat









0 Response to "memotret menggunakan flash"

Post a Comment